web page hit counter
Jumat, 4 April 2025
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Prof. Al Makin: Keragaman Kita Harus Disyukuri dan Dikembangkan Terus

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – NAMA Prof. Dr. Al Makin, MA (52) – sejarawan,  akademisi, penulis, dosen, dan cendekiawan Islam – jauh sebelum sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2020-2024), dikenal sebagai salah satu penganjur gerakan pluralisme Indonesia.

Menurut Al Makin, toleransi tidak cukup hanya saling membiarkan “kebenaran” masing-masing agama dan keyakinan, tetapi perlu ditingkatkan dalam bentuk kolaborasi dan persahabatan. Ngobrol dengan cendekiawan yang “laris” diminta berceramah, banyak melakukan penelitian dan produktif menulis,  berarti berkelana ke tema sejarah kehadiran agama-agama di dunia, mengerucut pada ajakan mensyukuri keberagamaan Indonesia.

“Saya tidak fokus pada bidang atau disiplin ilmu tertentu. S1 tafsir kitab suci Al Quran dalam bahasa Arab klasik, S2 sosiologi agama, dan S3 filfasat,” kata Al Makin di rumahnya, Kalasan, 18 Februari yang lalu.

Puluhan Buku

Senyampang kegiatan intelektualnya  — membaca, menulis, mengajar, berceramah — dia juga seorang pelukis. “Kami sekeluarga, termasuk bapak dan adik-adik saya suka melukis.” Sementara istrinya, Ro’fah, dosen.  Sudah beberapa kali Al Makin berpameran tunggal maupun bersama. Akhir Februari yang lalu, untuk merayakan pembukaan sanggar lukisnya, Sanggar Serasi di dekat rumahnya, diselenggarakan pameran bersama dengan 80 lukisan. “Saya mengikutkan empat saja. Sesudah ada sanggar, saya melukis di sini. Biasanya di belakang rumah.”

Mengenai tidak fokus pada bidang tertentu, terkutip sebuah paragraf dari salah satu bukunya. “Mengingat perkembangan dunia yang sedemikian cepat, ilmu lama patut diletakkan di meja dan dilihat ulang apakah sesuai atau tidak. Kita temukan model baru, cara baru, teori baru dengan mencampur-aduk yang telah ada, dengan kombinasi resep yang memungkinkan. Itulah ilmu baru, sehingga kita bisa berkontribusi pada kancah pengetahuan yang demikian luas dan labil,” tulisnya  dalam  “Akhir Kata” Membela yang Lemah, Demi Bangsa dan Ilmu, terbit pertama 2019.

Baca Juga:  Gereja Indonesia Berduka, Mgr. Petrus Turang Telah Dipanggil Tuhan

Pernyataan Al Makin sepertinya keluar konteks dan kontradiktif dengan dunia aktual yang semakin membutuhkan yang serba spesialisasi, bahkan superspesialisasi. Pernyataannya mungkin bisa diterima dan benar,  dalam konteks bidang ilmu-ilmu keagamaan, menyangkut sejarah, sosiologi politik agama dan filsafat—bidang-bidang yang dia geluti selama ini – apalagi diperkaya dengan penelitiaannya di lapangan tentang keragaman agama, politik, sosial budaya di berbagai negara.

Dengan puluhan buku yang dia tulis dan yang disampaikan di ruang kuliah maupun di ruang seminar, pemikirannya menjadi rujukan banyak akademisi dan peneliti di Indonesia. Dalam karya-karya tulisnya, Al Makin selain memakai bahan pustaka, sebagian besar justru menimba dan memperkaya dari penelitian lapangan. Mulai awal Maret 2025 ini dia tinggal di Universitas Kyoto untuk program penelitian tentang paham keagamaan anak-anak muda Jepang.

Perbedaan adalah Kekuatan

Al Makin tertarik mempelajari sejarah awal kehadiran Islam abad ke-7 M untuk disertasinya di Universitas Heidelberg, Jerman tahun 2008. Di bawah bimbingan seorang profesor dari Gereja Kristen Ritus Timur ia mendapati data ratusan nabi sebelum munculnya Nabi Muhamamd SAW. Mereka biasanya berasal  dari pemimpin-pemimpin suku maupun kedekatan dengan persoalan-persoalan yang dihadapi dunia Arab. Islam yang lahir pada abad ke-7 M  diuntungkan dengan terjadinya kekosongan politik, baik di Eropa, di Persia maupun di Arab sendiri.

Penjelasan Al Makin yang jernih, mendalam, serba “sersan” tentang bertemunya tradisi agama-agama besar sebelum abad ke-7 M dan sesudahnya, sangat mudah diikuti. Terjadi  pertemuan antara tradisi Arab dan Helenisme, Semitik dan Yunani, sebelumnya antara Yahudi dan Kristen. Timur Tengah, demikian Al Makin mengutip bukunya Keragaman dan Perbedaan. Budaya dan Agama dalam Lintas Sejarah Manusia: 2018, Cet. 4), sudah mengalami perkembangan sebelumnya. Misalnya, sekitar 300 atau 400 tahun sebelum Islam lahir di Makkah dan Madinah, sudah ada perdebatan teologis tentang keilahian Yesus Kristus. Aliran Arian meyakini Yesus sebagai juru selamat manusia tetaplah seorang manusia, tidak ada unsur ketuhanan dalam dirinya. Mana mungkin seorang manusia bisa menjadi penyelamat seluruh umat manusia. Tetapi paham ini dalam Konsili Nicea tahun 325 dinyatakan sesat.

Baca Juga:  Nicolas Rengade: Penziarah Kursi Roda Penuh Sukacita

Mengenai bertemunya tradisi agama-agama samawi (monoteis: Yahudi, Kristen, Islam), uraian Al Makin ibarat mengikuti kuliah sejarah agama-agama besar dan budaya Pastor J.W.M. Baker, SJ, maupun para dosen Kitab Suci Perjanjian Lama. Bahwa, di antaranya keterbukaan penguasa Muslim yang berbahasa Arab, tidak hanya menguasai wilayah tetapi juga tradisi intelektual. Misalnya karya-karya Aristoteles (384-322 SM) yang banyak dikomentari oleh Averroes/Ibn Rushd (1126-1198), berpengaruh besar dalam perkembangan filsafat Islam dan Eropa.

Menurut Al Makin, dengan mempelajari sejarah agama-agama besar, baginya keberagaman adalah keniscayaan.  Dari mempelajari tiga episode sejarah perjalanan Islam saja — Hijaz, Damaskus dan Baghdad — dia simpulkan sejak abad ke-7 M, Islam sudah beragam, beraneka rupa, berbeda, dan kompleks.  Karena itu perbedaan justru memperkaya dan selalu memberi jalan yang baru. Keragaman menjadi berkah yang patut dan harus disyukuri, serta dikembangkan. Kompleksitas, keragaman dan perbedaan bukan bahaya yang mengancam Islam, tetapi justru menjadi kekuatan yang perlu diolah lebih lanjut. Islam pun merangkul unsur-unsur kuno, seperti Hibrani, Biblis, dan Persia. Islam melakukan inkulturasi atau kontekstualisasi, seperti juga pada agama-agama Semitik yang lain seperti Kristen.

Baca Juga:  Elly Kusumawati Handoko: Banyak Harapan yang Harus Diupayakan Bersama

Bagaimana dengan keragaman Nusantara? Penjelasan Al Makin lebih terjabar dalam bukunya Keragaman dan Perbedaan. Budaya dan Agama dalam Lintas Sejarah Manusia. Menurut Al Makin, Nusantara adalah tempat bernaung, keluar masuk, dan bertemunya berbagai tradisi Timur dan Barat. Islam Indonesia melahirkan tidak hanya sufisme, Syariah dan aliran-aliran umum seperti Sunni, Syiah, Ahmadiyah, tetapi Indonesia juga meramu tradisi baru bahkan lintas agama. Di Indonesia juga subur dengan tumbuhnya agama dan paham baru. Di zaman Orde Baru, muncul kelompok-kelompok aliran kebatinan yang kebanyakan merupakan revivalisme yang bermaksud menghidupkan kembali nilai-nilai keagamaan lama. Jumlahnya tidak kurang dari 300 aliran baru lahir di Indonesia.

Dari antara ratusan aliran/agama baru itu, ia melakukan penelitian Lia Eden yang mendirikan kelompok Salamulah (Surga Eden). Menurut Al Makin, Salamulah adalah usaha sinkretisme pasca-Orde Baru yang menggabungkan Alkitab, Al Quran, Veda, dan mitos-mitos lokal. Lia Eden merupakan fakta kreativitas keindonesiaan. Sayang pemerintah melihatnya sebagai ancaman. Padahal sepatutnya tidak dianggap sebagai ancaman melainkan potensi yang bisa diolah menjadi kekuatan di tengah keragaman dan perbedaan keyakinan.

Mewawancarai Al Makin, membaca buku-buku dan artikel-artikelnya, saya dibawa masuk ke labirin terowongan masa lalu-kuno, sejarah agama-agama utamanya Islam di abad ke-7 dan sesudahnya. Bertali-temali antara tradisi Helenisme, Kekristenan, dan Islam yang berbeda-beda tetapi saling memperkaya, dan menemukan tradisi baru. “Kalau di zaman kuno saja manusia sudah bijak dan luwes dalam penyelarasan banyak unsur tradisi, apalagi sekarang.” Al Makin lantas mendesakkan sikap pluralistik. “Keragaman kita harus disyukuri dan dikembangkan terus,” tegasnya berkali-kali.

St. Sularto

Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No. 11, Tahun Ke-7, Minggu, 16 Maret 2025

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles