HIDUPKATOLIK.COM – PERHATIAN umat Katolik sedunia kini tertuju kepada Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja Universal, Wakil Kristus di dunia. Sejak pertengahan Februari 2025 lalu, kelahiran Argentina ini tengah menjalani pengobatan di RS Gemelli, Roma, Italia. Secara berantai, umat di pelbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia memanjatkan doa, memohon kesembuhan bagi Bapa Suci yang kini berusia 88 tahun. Halaman depan RS Gemelli sendiri berubah menjadi tempat umat berkumpul, termasuk dari kalangan berbeda keyakinan, memberikan dukungan kepada Paus. Begitu juga halaman Basilika Santo Petrus. Para kardinal, secara bergantian memimpin doa Rosario dengan intensi khusus kesembuhan Bapa Suci.
Pengalaman umat Katolik atas kondisi kesehatan Paus (sakit) dalam sejarah Gereja Katolik Roma sebetulnya bukan yang pertama kali. Paus Yohanes Paulus II pernah dirawat selama tiga bulan di rumah sakit ketika ia ditembak di Lapangan Santo Petrus pada tahun 1981. Beberapa Paus sebelumnya juga mengalami hal yang sama (sakit) namun kepemimpinan penggembalaan umat Katolik sedunia tetap berjalan normal. Pemerintahan Negara Kota Vatikan tidak mengalami gangguan. Negara Kota Vatikan sebagai negara berdaulat berjalan seperti biasa. Otoritas pemerintahan dijalankan oleh Sekretaris Negara Kota Vatikan dengan arahan Paus dari tempat perawatannya. Hal yang sama dilakukan oleh Paus Fransiskus dari RS Gemelli. Rumor atau spekulasi yang berseliweran melalui media, terutama media sosial, perlu disikapi oleh umat Katolik dengan kehati-hatian. Saring informasi sebelum sharing!
Maka, melihat perkembangan kesehatan Paus Fransiskus yang masih “turun-naik” ini, membawa Paus Frasiskus dalam doa pribadi dan doa bersama komunitas-komunitas sangat diharapkan. Situasi ini menjadi kesempatan yang baik pula untuk semakin menguatkan langkah Gereja (baca: Umat) sedunia berjalan bersama (bersinode) seperti diajarkan oleh Paus Fransiskus belakangan ini. Berjalan bersama untuk melihat kehendak Allah sekaligus memberikan kesaksian kepada dunia yang tengah dilanda pelbagai pesoalan atau krisis kemanusiaan, perabaan, perang, perebutan kekuasaan, penindasan, konflik, kekerasan terhadap kaum lemah, anak-anak, perempuan, dan lain sebagainya.
Peran kenabian Paus Fransiskus yang selama ini menjadi penyambung lidah bagi setiap kaum yang tak mempu bersuara terus digemakan. Tak hanya oleh para pemimpin Gereja Partikular – para uskup dan konferensi para waligere di seluruh dinia – tapi juga oleh umat di lingkungan terkecil masing-masing. Ensiklik-ensiklik yang telah diterbitkan oleh Paus Fransiskus — seperti Laudato Si’, Fratelli Tutti — hendaknya menjadi pedoman umat untuk menyikapi perlbagai persoalan dan tantangan yang dihadapi dunia saat ini.
Gereja sedang menjalani Retret Agung 40 hari (Prapaskah) menyambut Paskah. Seraya terus berdoa untuk kesembuhan Paus Fransiskus, momentum ini akan semakin bermakna bagi kehidupan dan perkembangan rohani umat manakala seruan-seruan Paus Fransiskus tak henti dihayati dan dihidupi di tengah masyarakat. Berziarah pengharapan bersama Bapa Suci Paus Fransiskus.
Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No. 11, Tahun Ke-79, Minggu, 16 Maret 2025