web page hit counter
Kamis, 27 Maret 2025
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Uskup Purwokerto, Mgr. Ch. Tri Harsono: Bukan “Do ut Des”

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Minggu, 23 Februari 2025 Minggu Biasa VII, 1Sam.26:2, 7-9, 12-13, 22-23; 1Kor.15:45-49; Luk.6:27-38

SAUDARA-saudariku yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus! Kita tahu bahwa hukum Ilahi awalnya akan sangat berbeda dengan hukum duniawi / manusiawi, bahkan sering bertolak belakang, saling melawan, saling meniadakan, dan mengalahkan. Namun sebenarnya ada kesinambungan antara aturan hukum tersebut, artinya dari keduanya ada hubungan yang saling memaknai, atau melengkapi.

Adanya nilai kebaikan karena ada nilai kejahatan, adanya keber-ada-an  karena ada ke-tiada-an, adanya nilai ke-suci-an karena ada ke-mursal-an/profanasi, adanya keber-iman-an karena ada ke-tidak-kenal-an Tuhan, dan seterusnya dan sebaliknya. Dengan demikian, cinta Kristus sangat berbeda dengan cinta sesama manusia, tetapi untuk membuktikan mencintai Tuhan harus terbukti dan terealisasi dengan mencintai sesama dan alam semesta ciptaan-Nya.

Perhitungan cinta menurut prinsip perhitungan matematis itu seperti (1) Cinta (dibawah manusiawi): memberi 1 berharap kembali 2 atau lebih, yang akan menghasilkan kekecewaan besar; (2) Cinta (manusiawi): memberi 1 berharap kembali 1, ini akan menghasilkan 0 besar = tidak menghasilkan apa-apa / sia-sia; (3) Cinta (Kristus/Kristiani): memberi 1 dan TIDAK  berharap kembali,  akan menghasilkan yang tidak terhingga, atau pengharapan yang tidak akan pernah mengecewakan.

Baca Juga:  Bersatu dalam Doa bagi Kesembuhan Paus Fransiskus, Kepala Negara Vatikan

Dalam Kitab Samuel di Bacaan Pertama, Tuhan memberikan pengajaran yang mendalam dan berbeda dengan aturan hukum manusia kepada kita, melalui raja Daud manusia surgawi yang diberkati. Tuhan telah menyerahkan Raja Salomo ke dalam tangan Raja Daud. Namun ia tidak membunuhnya, karena Daud memiliki Roh Tuhan, mengikuti aturan hukum-Nya, dan cinta Tuhan.

Daud tidak membunuh musuhnya yang tidak berdaya, dan hanya mengambil tombak sang raja (mengalahkan dengan senjata kasih Tuhan). Itulah kasih seorang beriman yang mengenal cinta kasih Tuhan. Tidak menghakimi, tidak menghukum, tidak membunuh atas nama Tuhan atau agama, tetapi mengampuni, dan memberi lebih kepada yang sangat membutuhkannya, atau memberi lebih dari segala harapan dan permohonnya.

Sedangkan dalam Bacaan Kedua, Adam berasal dari debu menjadi manusia fisik dan hidup, tetapi pada  akhirnya ia menjadi manusia Rohani, untuk mengingatkan kita semua dari waktu ke waktu atau dari hari ke hari, hendaknya bisa berubah dan berbuah, dari manusia berdosa kepada manusia bertobat, Syukur-syukur bisa mengampuni; dari manusia fisik kepada spiritual; dari manusia profan kepada yang lebih religius; dan dari manusia jasmani menjadi yang lebih rohani, menyerupai Tuhan pencipta kita semua.

Baca Juga:  Pendirian Provinsi Baru Ordo Karmel di Negara Indonesia

Kita diharapkan, semakin hari semakin mengenal cinta Tuhan, semakin dekat dengan-Nya, semakin lebih dan lebih secitra dengan-Nya, semakin dapat merealisasikan cinta Tuhan kepada sesama kita, dan tentunya kita semakin pantas untuk hidup Bersama-Nya, menjadi manusia-manusia Kristiani/Rohani/ Surgawi.

Para saudara-saudariku yang saya hormati, dalam Injil hari ini kita selalu diingatkan akan cinta Tuhan yang sangat luar biasa dan berbeda, yaitu selalu lebih dan lebih serta berkelimpahan. “Kalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? ……. Kalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu, apakah jasamu? (Luk. 6, 32-33).

Kita sebagai ciptaan dapat sedikit merenungkan dan menjalankan Cinta Tuhan, Pencipta kita dengan ciri-ciri sebagai berikut: lebih dahulu melakukan cinta tersebut kepada ciptaan-Nya, tidak terbalaskan/tidak tergantikan (bukan Do ut Des = saya memberi supaya kamu memberi), keadilanNya lebih baik dan lebih melimpah, bukan sama atau biasa saja, selalu memberi, bukan memohon/menerima, yang dimaksud Mahapengampun, bebas tidak memaksa, melalui tawaran yang terus menerus, pasti mendamaikan, menyatukan, dan menyelamatkan/menjanjikan (Spes non Confundit). Inilah cinta Kristiani itu.

Baca Juga:  Berziarah Pengharapan Bersama Paus Fransiskus

Marilah saudara-saudariku supaya kita lebih bahagia dan lebih yakin, kita berusaha beriman akan Kristus dengan belajar terus-menerus cinta kasih Tuhan yang menyelamatkan, walaupun sangat berbeda dan bertentangan dengan cinta dunia, tetapi kita telah mendapatkan contoh teladan cinta dari Kristus yang telah terbukti mengalahkan cinta dunia dan kematian melalui Salib Suci-Nya.

Teladan cinta Kristus telah terbukti mengalahkan cinta dunia.”

Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No. 08, Tahun Ke-79, Minggu, 23 Februari 2025

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles