HIDUPKATOLIK.COM – Minggu, 09 Februari 2025 Hari Minggu Biasa V. Yes.6:1-2a, 3-8; Mzm.138:12-2a, 2bc-3,4-5,7c-8; 1Kor.15:1-11 (panjang) atau 1Kor.15:3-8,11 (singkat); Luk.5:1-11
“SIAPAKAH yang akan Ku-utus? Dan siapakah yang akan pergi atas nama-Ku?” (Yes.6: 8a). Inilah sebuah bahasa hati Allah, yang dialamatkan kepada orang pilihan seperti Yesaya, yang merasa tidak layak dan tidak sanggup menjalankan tugas sebagai nabi di tengah kehidupan bangsa Israel. Kenapa merasa tidak sanggup? Kenapa merasa tidak percaya pada kuasa kasih Allah? Pertama-tama, karena seorang nabi pada masa Yesaya harus menghadapi kuatnya takhta kekuasaan dan kualitas kehidupan moral masyarakat Israel itu sendiri. Dua hal ini memang terasa seperti tembok kuat dan keras, yang tidak segan-segan menghukum dan membunuh orang-orang yang jujur dan yang lurus hati seperti para nabi.
Setelah kematian Raja Uzia, Yesaya terpanggil untuk meneguhkan takhta kerajaan dengan suara kenabian dan keberanian untuk bersaksi. Berjalan di masa depan, membawa keraguan Yesaya ke dalam hati Allah hingga Yesaya dengan berani bersaksi: “Inilah aku, utuslah aku!”. Meskipun berat dan susah, seorang nabi pun memasrahkan segala perutusannya di masa depan dalam lindungan tangan Allah yang rahim dan berbelas kasih. Panggilan profetis pada masa waktu apapun, tetap harus membawa setiap umat beriman pada kekuatan batin dan keteguhan cinta, bahkan dalam penderitaan yang paling berat sekalipun.
Masa waktu apa pun dalam kehidupan ini, tetaplah harus menjadi waktunya Tuhan, dan tidak ada waktu kehidupan tanpa Tuhan, apapun nama tahun, bulan, dan harinya. Yesaya melihat ke masa depan dalam nubuatnya, bahwa segala kegelisahan dan kecemasan umat Israel akan disempurnakan oleh kedatangan Mesias, sang raja abadi. Rasul Paulus pun seperti Yesaya, mula-mula ragu dan sinis pada ajaran iman Kristiani beserta pengikut-pengikutnya, namun setelah dibaharui oleh kebangkitan Kristus, Saulus pun menjadi seorang Paulus yang dengan gigih bermisi di tengah kehidupan bangsa Israel dan terutama pada kaum selain orang Yahudi.
Dengan semangat dan keteguhan itulah, Paulus memberikan dampak positif pada perkembangan iman Kristen di tengah kebudayaan helenis yang menguasai ilmu pengetahuan dan filsafat pada zamannya. Paulus terpanggil menjadi duta cinta Allah, menjadi saksi kasih Kristus, ia yang mula-mula hidup dalam kebencian dan amarah, kini hidup dalam cinta kasih dan pengabdian sebagai murid-murid Yesus yang setia, berbelas kasih dan berbakti. “Dan yang paling akhir Ia menampakkan diri juga kepadaku, seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, dan tak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya jemaat Allah. Tetapi berkat kasih karunia Allah aku menjadi sebagaimana aku sekarang dan kasih karunia yang dianugerahkanNya kepadaku tidak sia-sia,” demikian kesaksian Paulus tentang hidup imannya dan rahmat Tuhan dalam karya kerasulannya.
Kisah ini sungguh meneguhkan iman kita, betapa kita harus mengisi waktu kehidupan kita dengan penuh tanggung jawab dan cinta, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia yang kita jumpai dan yang kita layani. Yesaya dan Paulus adalah contoh abdi Allah, yang menerima anugerah waktu dengan komitmen batin dan tindakan pelayanan yang nampak dan berbuah melalui kesaksian kenabian dalam sukacita injili. Banyak orang dalam kehidupan ini, yang membuang-buang waktu dengan cara hidup yang tercemar dan penuh noda, dan tidak ingin masuk dalam pertobatan sebagai murid-murid Yesus, sebagaimana Paulus mengolah seluruh ziarah hidup masa lalunya.
Kita yang hadir dalam tahun baru ini, hendak mensyukuri panggilan hidup kita sebagai anak-anak Allah, dalam roda waktu, yang terus berganti nama Tahun dan nama angka tahunnya. Waktu terus berubah, dalam penanggalan kalender berdasarkan tradisi/kebiasaan, tetapi jati diri sebagai murid-murid Yesus telah kita baktikan dalam perbuatan baik dan perbuatan benar di tengah masyarakat kita. Kita terpanggil untuk menjadi pribadi yang bisa menyalurkan rahmat Tuhan bagi begitu banyak orang yang kita jumpai, sebagaimana Paulus telah menjadi rasul di tengah dunia.
Berbenah Diri
Pada tahun baru ini kita bersama-sama seperti bangsa Israel berjalan dalam roda waktu dengan suka duka kehidupannya beserta tantangan dan pergulatan masyarakat dan bangsa kita. Tahun baru ini menjadi waktu untuk senantiasa bersyukur dan berbenah diri, dalam sebuah persembahan diri kita kepada Tuhan dalam perjalanan roda waktu hidup ini.
Dalam jalan bersama sebagai sesama, kita hendak menyatakan tanggung jawab iman kita sebagai orang Kristen, untuk hidup dalam persaudaraan dan persahabatan yang memerdekakan, memberdayakan dan menyelamatkan.
Paus Fransiskus dalam pesan Natal dan tahun baru menyerukan tanggung jawab orang Kristen untuk memperjuangkan nilai kemanusiaan di tengah dunia, yang dilanda peperangan dan perselisihan yang mengorbankan begitu banyak nyawa manusia, terlebih khusus anak-anak dan perempuan.
Paus bahkan mengkritik budaya hidup yang meminggirkan dan melenyapkan peradaban cinta kasih, terutama rasa masa bodoh tingkat tinggi oleh begitu banyak orang, yang disebutnya sebagai globalisasi ketidakadilan. Kata-kata Paus Fransiskus ini begitu kuat mengkritik hidup modern yang berfoya-foya dan lupa peduli pada sesama yang susah dan menderita, yang mengalami ketidakadilan dan kekerasan.
Momen Refleksi
Ketika kita hendak membangun peradaban cinta kasih di tengah dunia dengan budaya kebencian dan perang antara bangsa-bangsa, maka kita hendak menjadikan momen ini sebagai momen refleksi dan berbenah diri menjadi lebih humanis dan lebih beradab lagi. Di tahun baru ini membuat kita lebih berani dan lebih tegas seperti Petrus dan Andreas, yang menjawabi panggilan Tuhan di pantai danau Genesaret.
Mula-mula mereka menghabiskan waktu kehidupan mereka sebagai nelayan, bekerja keras di tengah laut dengan segala suka dukanya dan kini ketika Yesus memanggil mereka, mereka menjadi murid-murid Yesus untuk mewartakan kabar sukacita. Perahu-perahu manusiawi mereka menjadi berkat ketika mereka bertolak ke tempat yang lebih dalam, dan mereka menebarkan jala sesuai amanat Tuhan Yesus.
Ada dua pesan penting. Pertama, marilah kita seperti Yesaya dan Paulus bertolak ke tempat yang dalam (Duc in Altum) dan berbuah dalam peran kenabian dan peran kerasulan. Tanpa cinta, kita akan mengalami rasa hampa dan putus asa, dan dalam Tuhan yang penuh cinta, kita akan menemukan makna hidup yang sesungguhnya.
Kedua, tahun kehidupan hendaknya menjadi tahun berahmat, ketika saat hidup ini tidak hanya menjadi waktu yang berlalu dan terus berlalu, melainkan waktu dalam Tuhan. Waktu dalam Tuhan, entah lama atau tidak, entah bahagia atau tidak, namun kita tetap menjadi murid-murid Yesus yang mengimani hidup, sengsara dan kebangkitan Kristus dalam hidup ini, juga menjadi sebuah modal keberanian dan ketegasan untuk melawan praktik ketidakadilan dan kekerasan, praktik hidup yang penuh dusta dan penindasan dalam hidup manusia.
Selamat merayakan hari Tuhan, dan semoga selalu hidup dalam waktunya Tuhan yang berbelaskasih dan rahim. Amin.
“Paus bahkan mengritik budaya hidup yang meminggirkan dan melenyapkan peradaban cinta kasih yang ia sebut sebagai globalisasi ketidakadilan.”
Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No. 06, Tahun Ke-79, Minggu, 9 Februari 2025.