web page hit counter
Jumat, 4 April 2025
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Pasang Surut Kini Memiliki Gereja Baru Representatif, Dulunya Bekas Rawa

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM“Gereja yang utama itu bukan yang terbuat dari batu, melainkan kita semua batu-batu yang hidup, umat Allah, pasamuan. Kitalah Gereja yang utama dan Gereja itulah yang adanya di dunia ini karena kepercayaan, pengakuan iman kepada Kristus, Mesias, Tuhan dan Juru Selamat”. Demikian disampaikan Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono dalam homilinya saat Perayaan Ekaristi Pemberkatan Gedung Gereja Paroki Allah Maha Murah Pasang Surut di Jalur 20, Desa Purwodadi, Kecamatan Muara Padang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan pada Rabu (15/1/25) lalu.

Interior Gereja baru (HIDUP/Jatra)

Mgr. Yohanes hadir memimpin Perayaan Ekaristi didampingi Pastor Paroki Allah Maha Murah, Pastor Alexander David Buntoro SCJ, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang, Pastor Yohanes Kristianto, perwakilan Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ), Pastor Laurentius Suwanto SCJ, dan puluhan imam konselebran. Perayaan Pemberkatan Gereja yang diawali dengan penyerahan kunci gereja dan pemberkatan pintu utama ini juga terangkai dengan penerimaan Sakramen Krisma bagi 25 orang krismawan.

Tampak Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono (kedua dari kiri) memimpin Perayaan Ekaristi pemberkatan dan peresmian Gereja baru. (HIDUP/Jatra)

Labih lanjut dalam perayaan yang dihadiri lebih dari 600 umat ini Uskup Yohanes juga menegaskan tentang makna perayaan iman yang menghadirkan sukacita bagi umat itu harus direnungkan dalam konteks Arah Dasar (Ardas) Tahun Ketiga Keuskupan Agung Palembang yang bertema Komunitas Basis Gerejawi. “Umat Allah di Keuskupan Agung Palembang ini, tahun ini diajak untuk membangun komunitas, kebersamaan. Bersama dengan para tetangga yang seiman untuk membangun komunitas basis yang mempunyai pengalaman akan pengakuan iman bahwa Kristus adalah Tuhan, Mesias dan Juru Selamat”.

Mgr. Yohanes menerima kunci dari Ketua Pembangunan. (HIDUP/Jatra)

Jangan Pelit

“Paroki ini bernama Allah Maha Murah, tetapi umatnya ojo pelit-pelit. Kalau umatnya pelit itu tidak merepresentasikan Allah yang murah hati. Maka saya selalu berdoa supaya Allah yang Maha Murah itu terus menginspirasi umat untuk juga murah hati”, ungkap Pastor David SCJ dalam sambutannya.

Pastor Alexander David Buntoro, SCJ (HIDUP/Jatra)

Lebih lanjut ia juga menuturkan bahwa pembangunan gereja yang berlangsung selama lebih dari satu setengah tahun ini didukung oleh banyak orang.  Hal ini menjadi wujud nyata belas kasih dan kemurahan Tuhan. “Harapannya gereja yang diberkati ini bukan hanya kualitas fisiknya yang membuat kita kagum, tetapi kualitas pribadi manusianya, umat Allah, juga membuat kagum. Semoga berkat HatiNya yang Kudus, Gereja yang dibangun di Desa Purwodadi Jalur 20 ini dipersembahkan demi kehidupan bersama yang harmonis dan berkarakter murah hati”, tegas Pastor David.

Daerah Rawa

Pasang Surut demikian orang mengenal dan menyebut daerah ini. Sebuah kawasan pemukiman yang didominasi lahan rawa gambut. Di daerah ini air tanah terasa asam dan air sungai yang coklat pekat terasa asin. Keduanya tak bisa dan tak layak untuk dikonsumsi. Saat itu, satu-satunya sumber air bersih adalah air hujan. Air sungai yang pasang dan surut mengikuti arus pasang surutnya laut di Selat Bangka, debu di musim kemarau, dan jalanan yang licin dengan lumpur hitam pekat dan lengket di musim hujan menjadi pemandangan yang umum terjadi di kawasan ini. Kondisi tersebut menjadi kisah dan tantangan tersendiri bagi para pastor dan umat di paroki ini juga masyarakat pada umumnya.

Baca Juga:  Nicolas Rengade: Penziarah Kursi Roda Penuh Sukacita

Pastor C.B Kusmaryanto SCJ yang pernah hadir dan berkarya melayani umat sebagai seorang gembala, membagikan pengalaman pelayanannya di tempat ini dalam sebuah buku berjudul Berjalan di Air Pasang Surut. Tulisan dalam buku tersebut memberi gambaran tentang suka duka pelayanan di sebuah daerah transmigrasi di Sumatera Selatan bernama Pasang Surut.

Membangun Persekutuan

Terbentuknya persekutuan umat di daerah ini bermula dari program transmigrasi yang digalakkan oleh Presiden Soeharto. Sejak awal tahun 1980-an para transmigran datang dari Pulau Jawa, khususnya daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Mereka mencoba membangun asa di tanah yang baru. Menurut cerita dari para transmigran, setelah tiba di Palembang mereka pun diantar ke daerah Pasang Surut menyusuri Sungai Musi dan tiba di sana pada malam hari. Maksud pastinya tidak ada yang tahu, namun kemungkinan besar pemilihan waktu malam hari ini agar para transmigran tidak dapat melihat dengan jelas kondisi daerah yang akan mereka tempati sehingga mereka tidak menuntut untuk dipulangkan atau dipindahkan ke tempat yang lain.

Hal itu mungkin terjadi, karena memang saat itu Pasang Surut adalah tempat yang sangat sulit dan tidak layak digunakan sebagai tempat tinggal. Hingga tahun 2000an satu-satunya akses transportasi dari Palembang ke Pasang Surut hanya menggunakan jalur air menyusuri Sungai Musi, sekitar 2 jam perjalanan.

Setelah tiba di Pasang Surut, beberapa umat dari kalangan transmigran berinisiatif untuk mengajak berkumpul dan berdoa bersama. Saat persekutuan semakin berkembang, Lukas Suwandi dan Mukijo pergi mewakili umat berangkat ke Palembang untuk memberitahukan keberadaan mereka dan meminta pelayanan rohani. Pada 18 Oktober 1981 persekutuan umat yang sudah mulai terbentuk pun diresmikan menjadi sebuah stasi dengan nama pelindung St. Lukas. Nama tersebut diambil dari nama babtis salah satu perintis, yaitu Lukas Suwandi. Stasi ini menjadi bagian dari pelayanan Paroki St. Paulus Plaju.

Tampak para suster hadir dalam pemberkatan. (HIDUP/Jatra)

Pastor Petrus Abdi Putra Raharja SCJ yang saat itu berkarya di Paroki St. Paulus Plaju sekaligus Delegatus Sosial (Delsos) sekarang Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Palembang rutin berkunjung ke tempat ini. Saat kunjungan ia tidak datang sendiri, ia juga ditemani oleh beberapa orang, di antaranya adalah Sr. M. Antoni Senirang FCh yang membantu pelayanan di bidang kesehatan.

Baca Juga:  Elly Kusumawati Handoko: Banyak Harapan yang Harus Diupayakan Bersama

 Sebuah Nama: Allah Maha Murah

Seiring perjalanan waktu, meski dengan kondisi yang sulit dan terbatas komunitas umat di wilayah ini pun semakin berkembang. Pada 1 Januari 1983 persekutuan umat di Pasang Surut resmi menjadi paroki dengan nama Allah Maha Murah. “Nama ini dipilih oleh Romo Abdi SCJ karena umat di Pasang Surut ini hidup dalam kemurahan Allah. Misalnya, air itu banyak melimpah tapi tak satupun bisa dikonsumsi kecuali air hujan. Mengapa Allah Maha Murah, itu persis karena alam atau situasi yang ada di Pasang surut ini di paroki ini. Memang Allah begitu murah hati, Allah benar-benar Pemurah. Seluruh umat diajak untuk memiliki kualitas pribadi yang murah hati, bukan pelit”, tutur Pastor David SCJ.

Gereja lama

Para imam di paroki ini melayani umat di 13 stasi yang tersebar di 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Musi Banyuasin, dan Kabupaten Ogan Komering Ilir. Dulu seluruh wilayah pelayanan hanya dapat ditempuh menggunakan speedboat menyusuri kanal-kanal sungai yang sangat dipengaruhi dengan pasang surutnya air Sungai Musi. Kini, seiring dengan berkembangnya infrastruktur jalan dan jembatan, pelayanan pun dapat semakin terjangkau, sepeda motor bahkan mobil sudah bisa menjangkau sampai ke pedalaman.

Bangunan lama (Dok Jatra)

Bangunan gereja paroki yang lama dibangun pada masa pelayanan Pastor C.B Kusmaryanto SCJ. Pembangunan gereja tersebut terbilang singkat, mulai dibangun pada 24 Juli 1994 dan diberkati oleh Uskup Palembang, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ pada 10 Desember 1994. Menjelang perayaan ulang tahun paroki ke- 40 pada awal tahun 2023 silam, umat menyadari kondisi bangunan gereja yang perlu mendapat perhatian khusus. Saat itu mereka sepakat untuk merenovasi bangunan yang ada. Namun, karena aneka pertimbangan akhirnya meski dengan kondisi yang sulit dan terbatas umat memutuskan untuk membangun gereja di lokasi yang baru.

“Saat perayaan ulang tahun paroki kami mengusung tema Madhep Mantep Mbangun Greja. Tema tersebut mau menegaskan pentingnya fokus dengan keyakinan membangun Gereja, bukan hanya secara fisik tetapi juga spiritual. Keyakinan itu kemudian diwujudkan dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja baru oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono pada 12 Agustus 2023 lalu”, ungkap Pastor David SCJ.

Panti Asuhan St. Maria

Salah satu karya Gereja yang dikembangkan di Pasang Surut adalah Panti Asuhan St. Maria. Letaknya tak jauh dari kompleks Gereja Paroki Allah Maha Murah. Anak-anak yang tinggal di tempat ini berjumlah 30 orang, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka datang dari berbagai macam latar belakang keluarga dan daerah. Jika dilihat dari latar belakang keluarga, maka bisa ditemukan bahwa anak-anak yang dibina di tempat ini adalah mereka yang berasal dari daerah yang sulit dan orang tuanya peduli pada pendidikan anak, ada anak dari keluarga kurang mampu secara ekonomi, ada anak dari keluarga yang berantakan, dan ada pula anak yang telah yatim piatu. Mereka berasal dari banyak tempat di luar Pasang Surut.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Berbelasungkawa atas Wafatnya Uskup Emeritus Keuskupan Agung Kupang
Uskup Agung Palembang bersama para tokoh masyarakat dan pemerintahan saat ramah-tamah bersama.

Gagasan untuk mendirikan Panti Asuhan St. Maria ini dicetuskan oleh Pastor Abdi SCJ yang secara rutin mengunjungi dan melayani umat dan masyarakat di Pasang Surut. Ide ini muncul karena ia sungguh mengenal kondisi wilayah dan kesulitan yang dialami oleh masyarakat. Dalam aneka perjumpaan saat berkunjung melayani umat Pastor Abdi SCJ menemukan beberapa keprihatinan yang ada di daerah ini, salah satunya tentang pendidikan anak-anak yang tidak memadai. Karena susahnya mengolah tanah di tempat itu, banyak anak juga harus hidup mandiri karena ditinggal oleh ayah mereka untuk pergi mencari peruntungan ekonomi di tanah rantau.

Atas dasar inilah, maka sejak tahun 1984 ia kemudian berusaha mengumpulkan anak-anak untuk mendapat pembinaan dan pendampingan. Kemudian pada 5 Oktober 1985, Pastor Abdi SCJ memutuskan untuk mendirikan rumah bina bagi anak-anak yang kemudian diberi nama Panti Asuhan St. Maria.  Sejak Maret 1986 rumah bina ini dikelola oleh Yayasan Sosial Pansos Bodronoyo yang menjadi bagian dari Komisi PSE. Sejak berdiri hingga saat ini, kehadiran rumah bina ini memberi warna tersendiri bagi Gereja di Pasang Surut.

Salah satu kegiatan pendampingan anak Panti Asuhan St. Maria di Pasang Surut. (Foto: Fr. Dedy SCJ)

Rumah bina ini seolah menjadi oase yang menyegarkan dan memberi harapan bagi banyak keluarga dan anak-anak. Panti asuhan ini dengan segala keterbatasannya berusaha untuk membantu anak-anak untuk mendapatkan pendidikan secara formal maupun nonformal. Pendidikan formal tingkat SD dan SMP dilakukan dengan menyekolahkan anak-anak ke sekolah yang ada di sekitar panti, sedangkan untuk SMA dan perguruan tinggi dilaksanakan di luar Pasang Surut, seperti Belitang, Metro, dan Palembang. Sedangkan pendidikan nonformal diberikan dalam bentuk pembekalan aneka keterampilan, seperti mengukir, membuat makanan ringan, berternak, dan berkebun.

Seiring perjalanan waktu, sejak 1 Maret 2003, Yayasan Sosial Pansos Bodronoyo menyerahkan pengelolaan rumah bina ini kepada Kongregasi SCJ Provinsi Indonesia. Pelayanan ini menjadi salah satu karya kategorial Kongregasi SCJ yang khas. Saat ini, Pastor Finsentius Ari Setiono SCJ dengan setia mendampingi anak-anak bersama 9 pendamping awam.

Pastor Titus Jatra Kelana dari Paroki Pasang Surut, Keuskupan Agung Palembang, Sumatera Selatan

Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No.04, Tahun Ke-79, Minggu, 26 Januari 2025

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles